Identitas Politik Indonesia: Pancasila sebagai Fondasi, Kepentingan Nasional, dan Hubungan Rakyat dengan Elite
NAMA : RIPKI MAULANA
NIM : 25101054293
MK : PKN
Sebenarnya apa identitas politik kita?
Identitas politik kita
sesungguhnya adalah sebuah konstruksi kolektif yang lahir dari perpaduan unsur
sejarah, budaya, nilai-nilai bersama, dan afiliasi ideologis yang memberi
kerangka orientasi secara politis kepada warga negara. Identitas politik bukanlah
sesuatu yang statis atau bawaan mutlak, tetapi hasil proses negosiasi sosial
dan konflik simbolik antara elit dan masyarakat dalam kerangka kekuasaan. Dalam
konteks Indonesia, identitas politik seringkali dirangkai dari praktik “politik
identitas” yakni mobilisasi atas dasar identitas etnis, agama, suku, atau
budaya yang dipakai sebagai instrumen perebutan dukungan politik. ( HMIP FISIP
UI, Mengenal Politik Identitas: Mulai dari Persoalan Identitas hingga
Pergerakan Politik, https://hmip.fisip.ui.ac.id/mengenal-politik-identitas-mulai-dari-persoalan-identitas-hingga-pergerakan-politik/
, Diakses Tanggal 12-10-2025 Pukul15:03)
Identitas politik kita juga
bersandar pada simbol nasional—seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, bahasa
Indonesia, dan narasi kebangsaan—yang dimaksudkan untuk menjadi titik temu di
tengah keberagaman etnis dan agama. (Binus University , Identitas Nasional Indonesia , https://binus.ac.id/character-building/2023/09/identitas-nasional-indonesia/
, Diakses Tanggal 12-10-2025 Pukul 15:10) Identitas politik tidak hanya soal
“siapa kita” secara identitas sosial, tetapi juga “bagaimana kita ingin
memosisikan diri secara politik” memilih
ideologi, orientasi kebijakan, dan afiliasi institusional (partai, gerakan,
kelompok sipil). (Drs. Suswanta., M.Si , 2024 , Politik Identitas dan Identitas
Politik, Cetakan I)
Karena identitas politik dibangun
melalui ruang publik, wacana, dan praktik sosial, maka identitas politik kita
dapat bersifat kontestatif—tergantung siapa yang mendefinisikan “kita” dan
dengan tujuan apa. Dalam demokrasi, identitas politik menjadi arena pembicaraan
dan persaingan antara elite dan masyarakat. Sebagai contoh konkret, dalam
Pemilu atau Pilkada, isu agama dan etnis sering dimobilisasi sebagai
tanda-tanda identitas politik yang dibaca oleh publik untuk menentukan pilihan
politik. ( FISIP UMSU , Peran Politik Identitas dalam Pemilihan Umum , https://fisip.umsu.ac.id/peran-politik-identitas-dalam-pemilihan-umum
, Diakses Tanggal 12-10-2025 Pukul15:14 )
Dengan demikian, identitas
politik kita adalah suatu narasi bersama yang dibentuk terus-menerus melalui
interaksi antara warga dan elite politik, simbolisasi nasional, serta
penggunaan politik identitas sebagai alat mobilisasi.
Merujuknya kemana?
Merujuknya identitas politik kita
harus diarahkan kepada landasan ideologis dan simbolik yang bisa menjembatani
perbedaan, yakni Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai kebangsaan yang inklusif
sebagai titik acuan bersama. Karena dalam negara majemuk seperti Indonesia,
jika merujuknya identitas politik hanya ke identitas-sebagai-kelompok (etnis,
agama, suku), maka akan berpotensi memecah persatuan dan memperkuat fragmentasi
sosial. Oleh karena itu, referensi ideal adalah identitas politik yang
“berkebangsaan” yang mengedepankan
kesetaraan, pluralisme, dan keadilan sosial sebagai pijakan.
Sebagai contoh, Pancasila dan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika dirancang sebagai instrumen untuk menyatukan
keragaman etnis dan agama dalam rangka negara-bangsa. ( WIRA INDO EDISI
NOVEMBER-DESEMBER 2017 - VOLUME 69/NOMOR 53, https://www.kemhan.go.id/wp-content/uploads/2018/01/wiraindowebnovdeskomplit.pdf)
Pancasila memberi kerangka nilai moral dan politik yang diharapkan menjadi
pedoman bersama dalam praktik politik, sehingga identitas politik tidak hanya
“identitas kelompok” semata tetapi tertaut pada nilai-nilai bersama yang
menyeimbangkan kepentingan kolektif.
Dalam praktik negara, merujuknya
identitas politik harus pula ke institusi demokrasi: partai politik, lembaga
negara, regulasi publik, dan mekanisme kontrol sosial. Artinya, identitas
politik tidak boleh lepas dari institusi yang mengorganisasi ekspresi identitas
apakah melalui partai, media, lembaga advokasi, atau komunitas lokal. Maka
identitas politik kita merujuk ke struktur institusional yang menjembatani
aspirasi bukan pada hitungan identitas primordial semata.
Selain itu, merujuk identitas
politik kita juga harus menyentuh ruang internasional: bagaimana posisi
identitas kebangsaan kita dalam arus globalisasi, dalam kerangka solidaritas
internasional, dan dalam diplomasi antarnegara. Karena identitas politik tidak
bisa dilepaskan dari konstelasi global apa artinya “kita” dalam konteks
interaksi global dan persaingan geopolitik.
Dengan demikian, merujuknya
identitas politik kita harus kepada nilai-nilai kebangsaan inklusif, institusi
demokrasi yang menghormati pluralitas, serta relasi global yang membingkai
posisi bangsa dalam dunia.
Apa kepentingan nasional kita?
Kepentingan nasional kita adalah
keseluruhan tujuan, harapan, dan kepentingan strategis yang ingin dicapai
negara untuk menjaga keamanan, kesejahteraan, kedaulatan, dan martabat bangsa
di dalam dan luar negeri. Kepentingan nasional mencakup dimensi vital
(esensial), strategis (jangka menengah), dan jangka panjang. (Prayusti, A.,
Djemat, Y. O., & Harikesa, I. W. A. (2024). KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA
DALAM MENYEPAKATI KERJASAMA INDONESIA-CHINA DALAM BIDANG EKONOMI DIGITAL TAHUN
2023, Global Insights Journal : Jurnal Mahasiswa Hubungan
Internasional, 1(1). https://doi.org/https://doi.org/10.36859/gij.v1i1.2457
)
Secara esensial, kepentingan
nasional meliputi perlindungan terhadap kedaulatan negara agar bangsa tidak
terancam oleh intervensi luar, dominasi asing, atau fragmentasi internal.
Negara harus menjaga integritas wilayah, keamanan pertahanan, dan otonomi dalam
pengambilan kebijakan.
Secara strategis, kepentingan
nasional Indonesia mencakup pembangunan ekonomi inklusif, pemerataan
pembangunan, penguatan daya saing di era global, dan transformasi digital.
Misalnya, dalam kerjasama ekonomi digital dengan Tiongkok, Indonesia berupaya
memanfaatkan transfer teknologi dan investasi, tetapi tetap menjaga aspek
keamanan ekonomi dan kepentingan domestik. (Prayusti, A., Djemat, Y. O., &
Harikesa, I. W. A. (2024). KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA DALAM MENYEPAKATI
KERJASAMA INDONESIA-CHINA DALAM BIDANG EKONOMI DIGITAL TAHUN 2023, Global
Insights Journal : Jurnal Mahasiswa Hubungan Internasional, 1(1).
https://doi.org/https://doi.org/10.36859/gij.v1i1.2457
)
Dalam jangka panjang, kepentingan
nasional kita mencakup visi Indonesia 2045 menjadi negara maju, makmur, adil,
dan berdaulat. Untuk itu, pembangunan sumber daya manusia, penguatan
infrastruktur, menjaga lingkungan, dan konsolidasi demokrasi adalah bagian dari
kepentingan nasional jangka panjang.
Kepentingan nasional juga
mencakup diplomasi aktif di kawasan dan global, promosi peran Indonesia sebagai
negara maritim, dan menjaga keseimbangan antara kemandirian dan kerjasama
internasional. Sebagai contoh, visi “Poros Maritim Dunia” yang diperkenalkan
Presiden Jokowi merupakan upaya merevitalisasi identitas maritim Indonesia dan
menjadikan negara ini sebagai aktor strategis di Indo-Pasifik. ( Putu Shangrina
Pramudia , 2025, Terminasi Diskursus Poros Maritim Dunia dalam Kebijakan Luar
Negeri Presiden Joko Widodo, Vol. 6 No. 2 )
Dengan demikian, kepentingan
nasional kita meliputi keamanan dan kedaulatan, pembangunan ekonomi dan
transformasi digital, visi jangka panjang pembangunan manusia dan
infrastruktur, serta posisi diplomatik yang mandiri namun relasional.
Bagaimana pengaruhnya terhadap konektivitas masyarakat
dengan elite?
Kepentingan nasional dan
identitas politik yang dirujuk ke nilai-nilai kebangsaan dan institusi
demokrasi akan mempengaruhi secara mendasar konektivitas antara masyarakat dan
elite, baik dalam bentuk komunikasi, kepercayaan, partisipasi politik, maupun saluran
representasi.
Pertama, jika identitas politik
lebih menekankan nilai inklusif dan institusional, maka masyarakat akan
cenderung memiliki peluang lebih besar untuk merasakan akses ke elite melalui
saluran formal (misalnya lewat pemilu, partai, lembaga perwakilan). Dalam
konteks demikian, konektivitas antara warga dan elite menjadi lebih terbuka dan
partisipatif.
Kedua, jika kepentingan nasional
yang dijadikan rujukan adalah agenda bersama (seperti pembangunan
infrastruktur, kemajuan digital, pemerataan), maka elite harus merespons
aspirasi masyarakat agar kebijakan mereka dianggap sah. Hal ini memaksa elite
untuk memperkuat hubungan komunikasi dan representasi kepada komunitas lokal,
sehingga konektivitas meningkat.
Namun, jika elite menggunakan
identitas politik sebagai alat politisasi untuk menjaga kekuasaan misalnya
memobilisasi ancaman identitas (agama, etnis) untuk mempertahankan basis
dukungan maka konektivitas bisa bersifat manipulatif: masyarakat diasumsikan
sebagai “pemilih identitas” alih-alih warga politik. Dalam kasus demikian,
hubungan elite-masyarakat bisa menjadi toksik dan terdistorsi. Politisasi
identitas seringkali dipakai elite untuk memecah atau membelah dukungan agar
mereka tetap bertahan. ( UII , Politik Identitas dan Media Sosial , https://www.uii.ac.id/politik-identitas-dan-media-sosial/
, Diakses Tanggal 12-10-2025 Pukul 15:29 )
Lebih lanjut, teknologi dan media
digital memengaruhi konektivitas sehingga elite dapat memanfaatkan platform
digital untuk menjangkau masyarakat (kampanye digital, media sosial). Tetapi
ini juga menciptakan kesenjangan: mereka yang lebih terhubung (elit digital,
kota) akan lebih mudah terakses, sedangkan masyarakat pinggiran yang akses
digitalnya terbatas menjadi terpinggirkan. Fenomena kesenjangan digital
(digital divide) memperlemah konektivitas antara masyarakat kurang terlayani
dan elite modern. (Palmira Permata Bachtiar, 2020, Ekonomi Digital untuk Siapa?
Menuju Ekonomi Digital yang Inklusif di Indonesia, Cetakan pertama )
Secara teoritik, struktur
jaringan sosial menunjukkan fenomena “inti-perifer” (core-periphery), di mana
elite berada di pusat jaringan dan masyarakat di pinggiran. Elite memiliki
lebih banyak koneksi, daya untuk menyebarkan informasi, dan kemampuan mempengaruhi
opini publik. Dalam konteks politik, elite yang mampu memposisikan diri sebagai
“penghubung” antara jaringan inti dan masyarakat periphery akan menonjol
sebagai elite yang efektif.
Dengan demikian, pengaruh
identitas politik dan kepentingan nasional terhadap konektivitas masyarakat
dengan elite sangat besar: pendekatan identitas dan rujukan nilai-nilai bersama
bisa memperkuat hubungan partisipatif, tetapi jika politisasi identitas digunakan
sebagai alat eksklusif oleh elite, konektivitas bisa terdistorsi dan mengarah
ke manipulasi.
Kesimpulan
Identitas politik kita adalah
narasi kolektif yang dirangkai dari warisan simbolik nasional dan penggunaan
politik identitas sebagai instrumen mobilisasi. Merujuknya identitas politik
harus kepada pijakan kebangsaan inklusif, institusi demokrasi, dan relasi
global yang sehat. Kepentingan nasional kita mencakup dimensi kedaulatan,
pembangunan ekonomi, transformasi digital, dan posisi diplomatik global.
Pengaruhnya terhadap konektivitas masyarakat dengan elite bisa membangun
hubungan representatif dan partisipatif jika dirancang dengan nilai inklusif,
tetapi bisa juga menjadi alat manipulatif jika elite menggunakan identitas
sebagai politik eksklusif.
Comments
Post a Comment